shookai

hajimemashite,,
watashi wa tia desu..
doozo yoroshiku.... :)

Senin, 14 Maret 2011

rumah Lontiok


RUMAH LONTIOK DAN MASYARAKATNYA

Rumah lontiok (uma lontiok) adalah salah satu rumah adat daerah Riau yang terdpat di Kabupaten Kampar.  Di kabupaten Kampar, rumah lontiok masih bisa ditemukan dibeberapa tempat yaitu di Dusun Pulau Belimbing Desa Sipungguk, Kecamatan Bangkinang Barat,Kabupaten Kampar. Terletak 80km sebelah barat kota pekanbaru, provinsi Riau.
Lancang Pencalang Lontiok,Rumah Adat Kampar

Sebenarnya rumah lontiok masih dapat kita ditemukan didaerah yang dikenal dengan nama Kampar limo koto yang terdiri dari Kuok, salo, bangkinang,air tiris dan rumbio karena berada ditepian sungai Kampar yang menjadi jantung kehidupan.
Perkampungan dibantaran sungai Kampar tersebut rimbun oleh pepohonan yang sudah berumuran lebih dari seratus tahun. Diperkampugan itu ditemukan 11 rumah lontiok yang masih berdiri.
http://3.bp.blogspot.com/_XwO0YtKnrRs/TMJVl0mPbVI/AAAAAAAAAt0/v5urwqsnMhk/s400/lontiok.jpg
Di Indonesia dikenali dua macam rumah yaitu rumah tinggal dan rumah adat. Rumah sebagai tempat tinggal berbeda dengan rumah adat. Rumah tinggaladalah rumah yang dibuat  dengan aturan-aturan yang sederhana dan tidak mengikat, berfungsi sebagai temapt tinggal keluarga.sedangkan rumah adat adalah rumah yang dibuat untuk keperluan adat seperti untuk mengadakan upacara-upacara adat (Maryono,1971;27). Rumah adat dibuat dengan aturan-aturan yang lebih rumit melipti adat dan kepercayaan. Masyaakat tradisionil percaya jika salah satu syarat itu tidak diaksanakan maka pemilik atau penghuni rumah tidak akan selamat dalam menjalani hidupnya. Syarat-syarat itu antara lain adalah pemilihan hari untuk mendirikan bangunan, tempat pendirian bangunan, bentuk bangunan, warna,motif hiasan dan material yang digunakan sampai doa dan mantera yang harus dibaca ( Yudohusodo, 1991;32 Rumah Untuk Seluruh Rakyat).
Asal usul rumah lontiok
Bentuk rumah tradisional Kampar berasal dari bentuk perahu yang disebut dengan perahu lancing atau perahu pelancang. Perahu ini dahulunya merupakan kendaraan kerajaan yang digunakan untuk meninjau rakyat yang tinggal disepanjang sungai Kampar.
Masyarakat Kampar menamai rumah tradisionalnya dengan sebutan ‘Rumah lontiok” atau rumah pelancang atau rumah lancang. Mereka meyakini bahwa rumah lontiok diilhami dari bentuk rumah kapal yang terdapat dipangkal perahu tradisional setempat. Rumah lontiok memang tidak begitu dikenal sebagai rumah adat melayu lainnya seperti rumah atap belah bubung ataupun rumah atap limas yang digunakan oleh masyarakat melayu kepulauan. Rumah Lontiok adalah rumah yang berfungsi sebagai rumah adat. Ismail seorang tokoh masyarakat dan bekas wali nagari (kepala desa ) Kampar mengatakan, rumah lontiok hanya dibangun oleh orang kaya atau seorang datuk (kepala suku). Sementara itu masyarakat biasa menggunakan rumah tiang tinggi sebagai tempat tinggal. Bagi orang kaya rumah lontiok merupakan suatu kebanggaan  dan symbol status dalam masyarakat, sedangkan bagi seorang datuk rumah lontiok adalah tempat menylenggarakan pmerintahan atas anak kemenakannya ( keluarganya yang berada dalam satu lingkungan klan)dan membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan adat. Karena kepemilikan rumah lontiok hanya pada kalangan terbatas, rumah lontiok dianggap sacral oleh masyarakatnya.
Keberadaan Rumah Lontiok, nampaknya, merupakan hasil dari proses akulturasi arsitektur asli masyarakat Kampar dan Minangkabau. Dasar dan dinding Rumah yang berbentuk seperti perahu merupakan ciri khas masyarakat Kampar, sedangkan bentuk atap lentik (Lontik) merupakan ciri khas arsitektur Minangkabau. Proses akulturasi arsitektur terjadi karena daerah Kampar merupakan alur pelayaran, Sungai Mahat, dari Lima Koto menuju wilayah Tanah Datar di Payakumbuh, Minangkabau. Daerah Lima Koto mencakup Kampung Rumbio, Kampar, Air, Tiris, Bangkinang, Salo, dan Kuok. Oleh karena Kampar merupakan bagian dari alur mobilitas masyarakat, maka proses akulturasi merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Hasil dari proses akulturasi tersebut nampak dari keunikan Rumah Lancang yang sedikit banyak berbeda dengan arsitektur bangunan di daerah Riau Daratan dan Riau Kepulauan.

Bagian-bagian rumah lontiok
Rumah Lontiok merupakan Rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kolong rumah sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang kayu, sebagai persiapan menyambut bulan puasa.
 Rumah lontiok berbentuk rumah panggung dan atapnya melengkung menyerupai bentuk rumah tradisional Minangkabau. Rumah ini didirikan diatas 18 tiang yang terdiri dari 16 tiang seri dan 2 tiang tuo yang dianggap sacral oleh masyarakat Kampar. Tiang tuo diberi hiasan berupa ukiran rendah menggunakan motif kaligrafi arab, daun atau naga. Bagi masyarakat Kampar tiang tuo adalah symbol kepemimpinan dan tempat berkumpulnya kekuatan gaib. Namun secara kosmologis yang dapat ditangkap dari pepatah adat serta mantra-mantra yang diucapkan dalam pengambilan tiang tuo, terlihat bahwa tiang tuo berfungsi sebagai penghubung antara dunia atas dan dunia bawah. Tiang seri maupun tiang tuo dibuat dari kayu gelondongan yang keras dan dibentuk menjadi polygon bersegi 4-9 sesuai dengan strata sossial pemilik bangunan atau dengan pertimbangan lain sesuai dengan anjuran tukang tuo atau dukun. Masyarakat Kampar membagi struktur bangunannya atas tiga bagian yaitu: bagian bawah(kolong), bagian tengah dan bagian atas.
Bagian bawah bangunan difungsikan sebagai tempat penyimpanan alat kerja, perahu, hasil pertanian dan secara temporer juga difungsikan sebagai tempat kerja. Bagian bawah bangunan terdiri fondasi (sondi), tangga dan tempat penampungan air. Fondasi terbuat dari kayu dan berfungsi sebagaipenyangga tiang agar beban bangunan tidak tertumpu padasatu titik dan dibuat dalam bentuk yang khas. Tangga terbuat dari kayu dengan 5 anak tangga yang dipasang dari kanan kekiri, berfungsi sebagai media untuk naik ke atas bangunan. Tangga terdiri dari dua bentuk yaitu tangga pelana kuda, digunakan oleh bangsawan dan tanga lurus digunakan pada rumah seorang pimpinan adat. Tangga memiliki makna simbolis tentang norma-norma social dan norma agamayang dianut warga setempat. Tempat penampungan air, selalu diletakkan disebelah kanan dan berfungsi sebagai tempat air mencuci kaki yang disebut dengan gogiak( tempayan dari tanah liat) atak cibouk ( gentong yang dibuat daripohon arena tau dari pohon kayu).
Rumah Lontiok, Rumah Adat Kampar
Bagian tengah berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat  melakukan interaksi antar anggota keluarga yang dikungkung oleh dinding yang dibuat miring keluar, pada bagian ujung dan pangkal dinding diberi hiasan yang disebut dengan gandoari menggunakan ragam hias flora dan fauna. Jika diamati dari samping akan kelihatan seperti tubh perahu. Ruangan bangunan dibagi atas ruangan bawah, ruangan tengah dan pedapuan. Sementara bagian kiri bangunan dsebut pangkal dan bagian kanan disebut ujung. Antara ruang bawah dan ruang tengah dibatasi oleh dinding yang disebut dengan bendul. Sementara itu atara ruangan tengah dan pedapuan dibatasi sekat setinggi satu meter atau dibiarkan bebas. Ruangan rumah lontiok diatur menurut adat dan merupakan batas-batas sacral yang menghendaki pemahaman spesifik dengan norma-norma yang khas melalui komponen bangunan yang disebut bendul yang terdiri dari bendul luar dan bendul dalam. Rumah lontiok umumnya ditempati oleh dua kepala keluarga atau lebih, namun ruangan bangunan ini tidak dibagi atas sekat-sekat yang permanen melainkan hanya dibatasi oleh rentangan tirai. Bagi penganten baru selalu dibuatkan kamar yang sifatnya temporer disisi kiri ruangan tengah. Pada beberapa rumah lontiok, disisi kanan ruangan (ujung) dibuat kamar tidur yang disebut dengan porserek untuk orang tua dan tamu.
Bagian atas bangunan terdiri dari loteng (salang) dan atap. Ruangan yang terdapat antara atap dan loteng difungsikan sebagai tempat penyimpanan harta dan barang-barang pusaka. Ujung kiri dan kanan bubungan atap terdapat hiasan berbentuk ukiran tembus yang disebut sulobayung, sementara  pada bagian bawah atap dihiasi dengan ragam hias sayap laying-layang.
Pembagian struktur rumah, ruangan , fungsi dan ragam hias bangunan menunjukkan bahwa rumah lontiok terbentuk perpaduan kemampuan kontruktif, nilai adat dan social serta kepercayaan lama dan baru yang sudah mesinkretis.

Bagian-bagian umum rumah
1.      Tangga
Tiang tangga berbentuk segi empat atau bulat. Pada kiri kanan ada kalanya diberi tangan tangga yang dipasang sejajar dengan tiang tangga, dan selalu diberi tiang hiasan berupa kisi-kisi larik atau papan tembus.
Jumlah anak tangga tidak ditentukan, tetapi tergantung pada tinggi rendahnya rumah tersebut.

2.      Tiang
Bentuknya dapat berbentuk persegi atau bulat. Tiang tidak boleh bersambung.
Jumlah tiang paling banyak 24 buah sedangkan tiang untuk bangunan yang lainnya tidaklah ditentukan jumlahnya . pada rumah bertiang 24, tiang-tiang itu didirikan 6 baris, masing-masing baris 4 buah tiang,termasuk tiang seri.

3.      Rasuk
Rasuk bebentuk persegi yang terbuat dari kau keras dan dipasang menembus tiang. Rasuk adakalnya disebut “ gelar jantan “ atau “gelar induk “.

4.      Gelagar
Disebut juga anak rasuk, ukrannya lebih kecil dari rasuk yang disusun melintang diatas rasuk.
5.      Bendul
Umumnya berbentuk bersegi empat dan merupakan balok yang tidak boleh bersambung bendul berfungsi sebagai bata sruang dan batas lantai.
6.      Jenang
Berbentuk balok bersegi empat atau bulat. Fungsi utamanya adalah tempat melekatkan dinding dan sebagai penyambung tiang dari rasuk ketutup tiang pada kedua ujungnya diberi putng. Sebelah bawah rasuk,sedangkan putting sebelah atas dipahatkan kedalam tubuh tiang.


Typology bangunan
Rumah didirikan diatas tiang 1.5m hingga 2,4m sehingga juga disebut rumah panggung..
Denah
Rumah induk termasuk banguna persegi panjang yang tidak ditentukan ukurannya karena bsar kecilnya ukuran tergantung kemampuan sang pemilik bangunan. Tetapi yang menjai ukuran adalah bagaiman acara mengukur rumah sehingga rumah itu cocok dengan pemiliknya.
Bagian-bagian rumah yang berfilosopi
a.      Tiang
·         Dalam aspek agama
Segi empat melambangkan empat penjuru mata angin sehingga rumah itu mendatangkan rezeki dari empat penjuru mata angin.

Segi enam melambangkan rukun iman dalam ajaran islam. Diharapkan pemiliknya dapat tetap taat dengan ajaran Allah SWT.
Segi tujuh melambangkan tujuh tingkatan surga dan tujuh tingkatan neraka. Jika pemilik rumah adalah orang saleh,makan dia akan masuk dalam salah satu tingkatan surga begitu sebaliknya.
Segi delapan melambangkan 8 arah mata angin,sama dengan segiempat.
Segi Sembilan melambangkan bahwa pemilik rumah adalah orang yang mampu. Namun itu tidak mutlak karena banyak orang mampu yang tidak membuatnya.
·         Aspek adat
Tiang utama atau tiang tuo adalah tiang yang terletak pada deretan kedua pintu masuk (muka) sebelah kiri dan kanan. Tiang ini tidak boleh bersambung. Tiang ini biasanya terbuat dari bahan kulim, tambesu, resak dan tunak.
Tiang gantung : tiang yang menggantung yang biasa diberi ukiran berupa rakukan dengan motif daun dan bunga yang bermakna bahwa masyarakat riau hidup dalam alam dan hrus menjaga kelestarian alam.

Bagian-bagian yang berhubung lansung dengan tiang
1.      Rasuk
Balok persegi empat yang terbuat dari bahan keras seperti tambesu , resak dan kulim. Biasanya rasuk dibuat ganda. Rasuk ganda biasa disebut rasuk induk dan rasuk anak.Rasuk induk sebelah bawah dan rasuk anak sebelah atas.
2.       Tutup tiang
Berbentuk persegi empat, ukurannya tergantung pada besarnya tiang. Tutup tiang menghubungkan tiang-tiang sudut bangunan disebut tutup tiang panjang,sedangkan yang menghubungkan tiang dengan tiang lainnya disebut tutup tiang pendek terbuat dari bahan yang sama dengan tiangnya.

b.      Tangga
·            Aspek religi
Anak tangga dibuat lima karena dalam islam itu menggambarkan 5 rukun islam.
·            Aspek adat istiadat
Terbuat dari kayu keras dan diberi ukiran pada kaki anak dan tangga. Ukiran khusus dibuat dikepala anak tangga. Tiang dan anak tangga pipih, biasanya dibuat dari papan yang tebal. Dipangkal tangga dibuat alas dari kayu keras atau batu, dan sampingnya diletakkan tempayan untuk mencuci kaki dan terletak disebelah kanan arah naik.

c.       Kolong rumah
·         Aspek kepercayaan/ religi
Kolong rumah biasanya digunakan oleh penduduk untuk mengumpulkan kayu bakar guna persiapan bulan puasa.
·         Aspek kebudayaan
Umumnya dipergunakan untuk tempat bertukang perahu, menyimpan perahu(berukuran kecil), tempat menyimpan kayu api atau kayu bakar, tempat kandang ternak. Kolong rumah tidak ada tempat pembagian ruangannya kecuali kolong dibawah dapur contohnya tempat untuk buangan air cuci piring yang biasanya disebut pelimbahan.

d.      Lantai
·         Aspek adat
Terbuat dari kayu meranti, medang atau punak. Untuk bagian rumah induk lantainya dapat dibuat dari nibung yang dibelah-belah. Susunan lantainya sejajar dengan rasuk dan melintang diatas gelegar dimanaujungnya dibatasi oleh bandul.
Ketinggian lantai tergantung kepada ketinggian tiang rumah. Umumnya selisih ketingian antara 20-60 cm.

·         Aspek kebudayaan
Dirumah induk lantainya harus selalu disusun rapat, bahkan diberi berlidah yang disebut “pian” sedangkan diruangan dapur lantainya disusun jarang atau agak jarang.
Lantainya terbuatdari belahan nibung, biasanya ditempatkan diruang belakang atau ditempat yang selalu kena air, seperti telodan dapur. Lntai nibung ini tidak dipaku, tetapi dijalin dengan rotan dan lebarnya antara 5-10cm.

e.      Dinding
·         Aspek adat
Didalam bangunan modern disebut purus. Jadi dalam merapatkan dinding yang satu dengan yang lainnya, bagian yang menonjol itu dimasukkan kebagian yang cekung sehingga papan-papan itu benar-benar rapat tidak tembus air atau cahaya.
Dindig lidah pian biasanya dipasang bagi rumah-rumah orang yang mampu, karena untuk membuat pian memerlukan tukang yang ahli dan kayukeras yang tidak berserabut.
·         Aspek kebudayaan
Dinding rumah lontiok bentuknya khusus yaitu sebelah luar seluruhnya miring keluar, sedangkan dinding dalam tegak lurus. Dinding seluruhnya tidak memakai rangka dinding, tetapi dilekatkan pada balok  yang dipurus dimana dinding ditanamkan. Balok tersebut berfungsi sebagai rangka dinding, juga sekaligus menjadi penemu antara papan satu dengan papan lainnya.
Balok kaki dinding sebelah muka melengkung keatas, dan kalau disambung dengan ukiran sudut-sudut dnding,kelihatan seperti bentuk perahu.
 

f.        Ukiran
Gandoari
1.      Terletak pada kaki dinding
2.      Membentuk pancalang atau lancing
Melambangkan bahtera kehidupan
Bahwa selama manusia itu hidup, meeka seakan ada dalam pelayaran, mengarungi lautan yang luas adalah wajar kalau dalam pelayaran itu ditimpa badai dan topan atau mendapat keselamatan sampai keseberang.

g.      Pintu
·         Aspek adat
Pintu disebut juga ambang dan lawang. Pintu yang berada diruangan tengah kalau rumah itu berbilik,pintu yang menghubungkan bilik dengan bilik dsebut juga pintu malim atau pintu curi. Pintu ini khusus keluarga perempuan keluarga terdekat atau untuk anak gadis, yang dibuat trutama untuk menjaga supaya penghuni rumah kalau ada keperluan dari satu bilik kebilik lainnya tidak melewati ruang tengah apalagi bila ruangan itu sedang ada tamu. Sebab menjadi adat pula bahwa “lalu lalang” didepan tamu merupakan perbuatan yang tercela, tidak tahu sopan dan tidak beradap. 
·          
h.      Atap
·         Aspek adat
Atap bentuknya melengkung keatas pada kedua ujung perabungnya. Kaki atap juga melengkung keatas, tetapi tidaklah sekuat lengkungan bubungannya. Bahan utama atap dahulu adalah ijuk,rumbia, tetapi beberapa waktu terakhir ini sudah banyak yang menggunakan beberapa seng. Pada kedua ujung puncak atap diberi hiasan khusus yang disebut sulobayung. Pada keempat sudut cucuran atap diberi pula hiasan yang disebut sayol layangan, contohnya ada yang menyerupai bulan sabit yang menggambarkan memberikan penerangan kepada seisi rumah. Tanduk hewan kerbau melambangkan bahwa kerbau adalah hewan yang bayak mebantu penduduk dalam mata pencahariannya dan sayap layang-layang. Umumnya ukiran itu melengkung keatas. Makna ukiran pada kedua puncak ujung atap adalah pengakuan terhadap tuhan yang maha esa bahwa manusia akan menghadap kembali dengan penuh penyerahan.
·         Aspek religi
Bentuk atap lontiok (melengkung keatas pada kedua ujungnya ) mengandung makna bahwapada awal dan akhir hidup manusia akan kembali kepada yang maha tinggi yakni tuhan pencipta sekalian alam. Didalam kehidupannya manusia memasuki lembah yang dalam yang kadang-kadang penuh penderitaan dan cobaan. Bila ia selamat dalam mengarungi lembah,maka akhirnya akan kemballli ketempat asal dengan selamat.

i.        Ukiran
·         Sulo bayung
1.      Terletak dipuncak atap
2.      Berbentuk hiasan yang melambangkan pengakuan terhadap kekuasaan tuhan yang maha esa.
3.      Demikian perabung atap yang melengkung keatasmengandung makna dari makna asal manusia, dimana mereka berada dan akan kemana akhir perjalan hidupnya.







 Kebudayaan universal masyarakat ocu
Kampar sangat identik dengan sebutan Kampar Limo Koto. Limo Koto terdiri dari Kuok, Bangkinang, Air Tiris, Salo, dan Rumbio. Terdapat banyakpersukuan yang masih dilestarikan hingga kini. Sangat penting rasanya anak kemenakan mendapat penjelaskan posisi adat kampar sebagai sebuah budaya asli masyarakat kampar bukan saduran dari minangkabau . Karena budaya suku turun ke ibu adalah produk hindu..bukan produk minang, ungkap situs-situs sejarah yang menjadi jati diri suku ocu.
Dijelaskan bahwa minanga tamwan dalam prasasti kedukan bukit bukan berarti minang, tapi pertemuan dua sungai kampar kanan dan kiri yang menjadi pusat kerajaan sriwijaya, masyarakat kampar harus tahu bahwasanya pagaruyung adalah kerjaan yang jauh lebih muda (zaman maja pahit) dan bukan pusat budaya Kampar.
Kaji dan analisis dua keterangan sejarah melalui BAKABA TAMBO ADAT MINANG KABAU dan buat perbandingan dengan kajian SULALAT AL-TSALATSIN, itu jati diri suku ocu.
Bahasa yang dipakai di Limo Koto, yang juga kemudian menjadi bahasa Kampar adalah bahasa Ocu. Di samping itu, Limo Koto juga memiliki semacam alat musik tradisional Calempong dan Oguong.
Di samping julukan BUMI SARIMADU kabupaten Kampar juga terkenal dengan julukan SERAMBI MEKKAH di propinsi Riau,ini disebabkan masyarakatnya yang 100% beragama Islam (etnis ocu),demikian juga dengan pakaian yang sehari-hari yang dipakai bernuansa melayu muslim.
Masyarakatnya sendiri merupakan masyarakat dari suku Ocu yang merupakan salah satu bagian dari suku yang ada dalam imperium Melayu Riau, Suku Ocu mempunyai ciri dan kateristik yang khas. Bahasa Ocu juga menjadi bahasa sehari hari, dalam kosa katanya banyak kemiripan dengan bahasa Minang Sumatra Barat namun dalam vocal dan dialek sangat kental dengan Melayu lagi lagi ini menjadikan bahasa Ocu khas.
Selain mengikuti pemerintahan yang ada, masyarakat Kampar juga patuh dan diatur oleh sistim pemerintahan adat yang diatur dalam kelembagaan adat mulai dari tingkat kampuong, nagohi (negeri) hingga koto dan Andiko 44 sebagai federasi yang memerintah Kampar secara keseluruhan, dan perangkat pemerintahan ini disebut dengan Ninik Mamak yang dipimpin oleh Penghulu.
contoh  bahasa ocu:
saya - awak - deyen
anda - kau
pergi - poyi
pekan - pokan
kecil - kocik
kedai - kodai
mau - mo
abang - Ochu atau abang
kakak - kakak
abang lelaki tertua - onshu
Untuk mata pencaharian, rata-rata masyarakat ocu asli adalah mencari ikan disungai atau bertani,berternak dan berdagang.


Simpulan
Arsitektur tradisional daerah Kampar mengandung berbagai nilai budaya yang khas, yang tercermin dari awal proses pembangunannya sampai selesai. Dalam bangunan tersebut terkandung makna dan filosofi yang mata dalam kaitannya dengan pembentukan watak dan sikap hidup masyarakatnya.
Musyawarah, sebagai titik awal dalam erencanakan suatu pekerjaan, mencerminkan sikap demokratis dan saling menhgargai. Walaupun didalam adat para datuk dan ninik mamak memegang tumpuk adat, tetapi didalam musyawarah mereka tidakmemiliki hak veto. Setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya secara terbuka, untuk kemudian dirundingkan untuk dimufakatkan dalam menentukan garis akhir. Keputusan terakhir merupakan tanggung jawab bersama.
Struktur bangunan rumah adat lontiok memiliki makna yang kesemuanya berkaitan denga system kekerabatan dalam masyarakat. Ia melambangkan hubungan antar indvidu; antara orag tua, anak, dan anggota masyarakat lainnya. Selain itu struktur rumah adat juga melambangkan kebesaran sang pencipta. Dinding rumah dibuat miring keluar, melambangkan penghormatan kepada kekuasaan tuhan dan penghargaanterhadap sesama makhluk. Tiang tuo, yakni tiang utamanya yang terletak disebelah kiri dan kanan pintu tengah melambangkan bahwa manusia haruslah menghormati kedua orangtuanya  dan didalam hidup haruslah dapat menyesuaikan diri untuk dua kepentingan, yakni kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar